Lipida
adalah golongan senyawa organik yang sangat heterogen yang menyusun jaringan
tumbuhan dan hewan. Lipida merupakan golongan senyawa organik kedua yang menjadi
sumber makanan, merupakan kira-kira 40% dari makanan yang dimakan setiap hari.
Lipida mempunyai sifat umum sebagai berikut:
·
lidak
larut dalam air
·
larut
dalam pelarut organik seperti benzena, eter, aseton, kloroform, dan
karbontetraklorida
·
Mengandung
unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen, kadang-kadang
juga mengandung nitrogen dan fosfor
·
bila
dihidrolisis akan menghasilkan asam lemak
·
berperan
pada metabolisme tumbuhan dan hewan.
Minyak dan
lemak termasuk dalam golongan lipida sederhana. Minyak dan lemak yang telah
dipisahkan dari jaringan asalnya mengandung sejumlah kecil komponen selain trigliserida,
yaitu: lipida kompleks (lesitin, sephalin, fosfatida lainnya, glikolipida),
sterol yang berada dalam keadaan bebas atau terikat dengan asam lemak, asam
lemak bebas, lilin, pigmen yang larut dalam lemak, dan hidrokarbon. Komponen
tersebut mempengaruhi warna dan flavor produk.
Lemak dan
minyak terdiri dari trigliserida campuran, yang merupakan ester dari gliserol dan
asam lemak rantai panjang. Minyak nabati terdapat dalam buah-buahan, kacang-kacangan,
biji-bijian, akar tanaman, dan sayur-sayuran.
Menurut Lehninger (1982) lemak merupakan bagian dari lipid
yang mengandung asam lemak jenuh bersifat padat. Lemak
merupakan senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air,
tetapi larut dalam pelarut organik nonpolar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5),
kloroform (CHCl3), benzena, hexana dan hidrokarbon lainnya. Lemak
dapat larut dalam pelarut tersebut karena lemak mempunyai polaritas yang
sama dengan pelarut (Herlina 2002).
Dalam mengetahui kadar lemak yang terdapat di
bahan pangan dapat dilakukan dengan mengekstraksi lemak. Namun mengekstrak lemak secara murni
sangat sulit dilakukan, sebab pada waktu mengekstraksi lemak, akan terekstraksi
pula zat-zat yang larut dalam lemak seperti sterol, phospholipid, asam lemak
bebas, pigmen karotenoid, khlorofil, dan lain-lain. Pelarut yang digunakan
harus bebas dari air (pelarut anhydrous) agar bahan-bahan yang larut
dalam air tidak terekstrak dan terhitung sebagai lemak dan keaktivan pelarut
tersebut menjadi berkurang.
Sifat-sifat dari lemak dapat diidentifikasi dengan beberapa metode Terdapat dua
metode untuk mengekstraksi lemak yaitu metode ekstraksi kering dan metode
ekstraksi basah. Metode kering pada ekstraksi lemak mempunyai prinsip bahwa
mengeluarkan lemak dan zat yang terlarut dalam lemak tersebut dari sampel yang
telah kering benar dengan menggunakan pelarut anhydrous. Keuntungan dari
dari metode kering ini, praktikum menjadi amat sederhana, bersifat universal
dan mempunyai ketepatan yang baik. Kelemahannya metode ini membutuhkan waktu
yang cukup lama, pelarut yang digunakan mudah terbakar dan adanya zat lain yang
ikut terekstrak sebagai lemak.
Metode Soxhlet
Metode Soxhlet termasuk jenis ekstraksi menggunakan pelarut
semikontinu. Ekstraksi dengan pelarut semikontinu memenuhi ruang ekstraksi
selama 5 sampai dengan 10 menit dan secara menyeluruh memenuhi sampel kemudian
kembali ke tabung pendidihan. Kandungan lemak diukur melalui berat yang hilang
dari contoh atau berat lemak yang dipindahkan. Metode ini menggunakan efek
perendaman contoh dan tidak menyebabkan penyaluran. Walaupun begiru, metode ini
memerlukan waktu yang lebih lama daripada metode kontinu (Nielsen 1998).
Prinsip Soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang
selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah
pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Soxhlet terdiri dari pengaduk
atau granul anti-bumping, still pot (wadah penyuling, bypass
sidearm, thimble selulosa, extraction liquid, syphon arm inlet,
syphon arm outlet, expansion adapter, condenser (pendingin), cooling water in, dan
cooling water out (Darmasih 1997).
Langkah-langkah dalam metode Soxhlet adalah : menimbang
tabung pendidihan ; menuangkan eter anhydrous dalam tabung pendidihan,
susun tabung pendidihan, tabung Soxhlet, dan kondensator ; ekstraksi dalam
Soxhlet ; mengeringkan tabung pendidihan yang berisi lemak yang terekstraksi
pada oven 1000C selama 30 menit ; didinginkan dalam desikator lalu
ditimbang (Nielsen 1998).
Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang 5 sampai dengan 10
gram dan kemudian dibungkus atau ditempatkan dalam “Thimble” (selongsong
tempat sampel) , di atas sampel ditutup dengan kapas. Pelarut yang digunakan
adalah petroleum spiritus dengan titik didih 60 sampai dengan 80°C.
Selanjutnya, labu kosong diisi butir batu didih. Fungsi batu didih ialah untuk
meratakan panas. Setelah dikeringkan dan didinginkan, labu diisi dengan
petroleum spiritus 60 – 80°C sebanyak 175 ml. Digunakan petroleum spiritus
karena kelarutan lemak pada pelarut organik. Thimble yang sudah terisi
sampel dimasukan ke dalam Soxhlet. Soxhlet disambungkan dengan labu dan
ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor . Alat pendingin
disambungkan dengan Soxhlet. Air untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi
lemak kemudian mulai dipanaskan (Darmasih 1997).
Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati Soxhlet
menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar
kondensor mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian
menetes ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble,
larutan sari ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah
mencukupi, sari akan dialirkan lewat sifon menuju labu. Proses dari
pengembunan hingga pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak
kasar dilakukan selama 6 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan
lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan (Darmasih 1997).
Faktor
yang Memengaruhi Kadar Lemak
Faktor-faktor yang memengaruhi laju ekstraksi adalah tipe
persiapan sampel, waktu ekstraksi, kuantitas pelarut, suhu pelarut, dan tipe
pelarut. Dibandingkan dengan cara maserasi, ekstraksi dengan Soxhlet memberikan
hasil ekstrak yang lebih tinggi karena pada cara ini digunakan pemanasan yang
diduga memperbaiki kelarutan ekstrak. Makin polar pelarut, bahan terekstrak
yang dihasilkan tidak berbeda untuk kedua macam cara ekstraksi. Fenolat total
yang tertinggi didapatkan pada proses ekstraksi menggunakan pelarut etil
asetat. Sifat antibakteri tertinggi terjadi pada ekstrak yang diperoleh dari
ekstraksi menggunakan pelarut etil asetat untuk ketiga macam bakteri uji
Gram-positif. Semua ekstrak tidak menunjukkan daya hambat yang berarti pada
semua bakteri uji Gram-negatif (Lucas dan David 1949).
Sumber:
1.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/analisis%20lipid.pdf
(diunduh 24 September 2012 pukul 22.30)
2.
http://avliyaajan22.blogspot.com/2011/05/blog-post.html
(diunduh 24 September 2012 pukul 22.54)









